Minggu, 01 Desember 2013

cerita

  kisah burung beo

     Konon dipedalaman hutan yang lebat dikalimantan, hiduplah seekor burung beo. Dia tinggal bersama burung lain. Dihutan itu burung beo menjadi sosok yang sangat ditakuti diantara burung yang lainnya. Pada suatu hari, burung beo bertemu dengan burung elang disebuah batu ditengah danau yang sejuk. “Hai makhluk asing! Apa yang membuat engkau berani hinggap dibatu yang sedang aku tempati?” seru  burung beo dengan sombongnya, “Batu ini masih cukup luas untuk burung yang lain! Kenapa engkau menguasainya seorang diri?” jawab burung elang dengan sopan. “Oh rupanya kau burung yang tersesat! Ku beri tahu sesuatu, elang! Dihutan ini , akulah yang memiliki kemampuan dan keindahan tanpa tanding. Jadi, aku takkan sudi hinggap bersama burung yang berwarna jelek dan bersura payah sepertimu!” burung beo menunjukkanya kesombongannya. Benarkah? Apakah kau sehebat dan setangguh itu?” Tanya burung elang dengan penasaran. Tentu saja! Bahkan kau pun takkan mampu menandingi kehebatanku!”. “Baiklah jika kau memang jagoan! Bagaimana kalau kita bertanding? Biar para penghuni hutan jadi jurinya “ tantang burung elang kepada burung beo. “Baik aku setuju! Yang kalah harus mengakui kehebatan yang menang!” ujar burung beo kepada merpati.
       Keesokan harinya, perlombaan pun dimulai. Seluruh penghuni hutan menyaksikan perlombaan itu. Burung beo dengan kesombongan dan keangkuhannya telah menerima tantangan burung elang untuk adu ketangkasan dan adu kecepatan dalam hal terbang. Burung beo yang sombong itu tidak mengetahui bahwa lawannya kali ini adalah burung tercepat yang mampu melesat dan berhenti seketika.
       Rute lomba telah disepakati. Kedua burung itu akan menyusuri hutan dan kemudian mengambil biji semangka yang telah diletakkan disebuah menara diluar hutan, ditengah pemukiman penduduk. “Kita akan sama-sama melihat kekalahan seekor dari daratan yang jauh ini!” ujar burung beo kepada warga hutan.
       Dengan seluruh kekuatanya, burung beo berhasil menyusul burung elang. Hal itu tidak berlangsung lama. Burung beo segera kehilangan tenaganya dan kembali tertinggal. Sementara itu burung elang membawa cadangan makanan yang memberinya tenaga banyak. Burung elang berhasil sampai dimenara lebih dulu dan mengambil biji semangka itu. Burung beo menyusul kemudian dengan susah payah dan tampak kelelahan kehabisan tenaga. “Kesombongan tak terbukti pada lomba kali ini!” ujar burung elang. “ AKu akan mengalahkanmu dalam perjalanan kembali kehutan” umpat burung beo kepada elang. Burung elang hendak menuju hutan ,tetapi tiba-tiba dari arah bawah tampak penduduk desa beramai-ramai telah membawa jala dan jerat untuk menangkap si burung beo. Burung elang berteriak kepada burung beo untuk segera pergi. Saat itulah niji semangka yang dibawa elang jatuh ketanah. Burung beo tidak menyia-yiakannya kesempatan ini. Ia terus terbang dan terbeng tiba-tiba….. “Kena!” teriak seorang penduduk yang berhasil menangkap burung beo  dengan jala. “Lihat! Pasti burung beo ini bagus dirempatkan disangkar dekat rumahku!” ujar penduduk yang berhasil menangkap burung beo.
       Burung elang hanya bias menatap peristiwa tragis itu. Burung beo dengan bulu dan suaranya yang selalu ia sombongkan kini tinggal didalam sangkar rumah penduduk. Dia tidak lagi dapat menyombongkan dirinya warna dan suaranya yang indah. Begitulah akhir dari kesombongan dan keserakahan si burung beo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar